Selasa, 28 September 2021

Sumur Bor Utk Warga Terdampak Kekeringan

 

Awal bulan pas blusukan ke pelosok2 desa, menyambangi rumah seorang guru ngaji di wil bag barat bumi mliwisputih. Dia relakan rumah yg sederhana itu, utk sekitaran 80- 100an santri, ngaji Al-Qur'an bergiliran. Ruang tamu disulap jadi kelas, perabot meja kursi tamu diganti meja dampar kayu triplek, utk ngaji santri. Dinding rumah yg lumrah diisi foto2 keluarga atau lukisan, diganti papan belajar, bertulis pelajaran2 harian. Santri ngaji suka rela alias ga bayar, padahal itu bukan anak nya, tapi anak warga sekampung, bahkan ada yg dr kampung sebelah desa.

Pak guru mengaku "terdampar" di desa itu. Awal menikah ia ikut istri. Di desa yg terbilang pelosok, tempat mengaji masih sedikit. Ini yang menjadi tantangannya sehingga jiwa santrinya berkobar, menyalakan pelita2 ilmu utk warga desanya. Ngaji, ngajar, bahkan jg keliling ke beberapa majelis di luar desanya.
Disamping tantangan alam, jalan yg masih khas pedesaan bebatuan, sulitnya sumber air bersih menjadi tantangan terberat.
Bertahun2 dipikirkan cara, namun belum menjadi solusi utk kebutuhan rumah tangga, sanitasi masjid dan musholla karna hampir satu lokasi desa krisis air terutama di musim kemarau ini.
Kami ditunjukkan fakta, mulai di pekarangan rumahnya, dan rata2 di permukiman warga, paralon putih semerawut menuju sumber air di luar desa. Benar saja, kami telusuri jalanan, lewat jembatan geladak kayu, tadinya sempat berfikir disitu pasti sumber airnya. Dekat sungai, ternyata salah.
Malah yg kami lihat, paralon putih2 itu semakin semerawut bergelantungan disisi kiri dan kanan jembatan.
Terus saja kita ikuti arah paralon putih itu, rupanya, kelihatan sumur2 kecil utk sumber air bersih warga sekitar. Kalau dihitung jumlahnya puluhan.
Kenapa tidak jadi satu titik saja, tanya kami penasaran. Jawabnya, tidak bisa krn sumbernya kecil sekali, hanya cukup utk kebutuhan satu keluarga. Waduh, kalau satu sekampung bikin sumur sendiri2, bisa dibayangkan berapa jumlahnya. Bisa semakin memerawut jalan desa ini dipenuhi paralon2 putih itu ya,..
Kebetulan pas melanjutkan blusukan, ketemu warga yg sedang menyiapkan peresmian jembatan desa momentum kemerdekaan Indonesia ke 76. Pas ngobrol2 soal kekeringan desa, ia nyeletuk, jaman saya masuk pertama kali di desa ini, malam pengantin baru, bukannya ngeloni istri tapi yang dikeloni belik kali. Ngerti kan maksud belik? Kebayang kan, repotnya pengantin baru di desa ini. "Hehe,.." kaya dia yg juga "naturalisasi" dari Rembang Jawa Tengah ini.
Demikianlah cerita dan fakta dari guru ngaji yg mengajak blusukan siang itu. Dia ingin sekali punya sumur yg mencukupi kebutuhan dirinya dan warga. Apalagi pak guru juga punya kepentingan utk kebutuhan santrinya jika jumlahnya semakin banyak.
Apalagi sudah ada yg mulai mukim di rumahnya, yg kebetulan anak yatim mondok dari kampung sebelah. Untuk tiga santri mukimnya itu, pak guru merelakan teras rumahnya dibuat kamar.
Yuk, ikut wujudkan sumur bor, klik link
Atau INBOX Aja,...

Sabtu, 25 September 2021

Nurul Hayat Melakukan gotong royong melakukan Vaksinasi untuk penyandang distabilitas

 


Demi menjaga Kesehatan bersama di masa pandemi saat ini, Gotong royong bersama PDKB,Forum Zakat, Idfos,Filantropi Indonesia, Nurul Hayat, Yatim Mandiri,BMH, PMI, Blok Bojonegoro, PWI Bojonegoro, melakukan ikhtiar Vaksinasi untuk penyandang distabilitas yang ada di bojonegoro.

 

Vaksinasi di gelar di Sekertariat PDKB ” Perkumpulan Distabilitas Kabupaten Bojonegoro” di ikuti oleh 27 orang Penyandang Distabilitas.

 

Mas Che Che salah satu peserta penyandang distabilitas dengan keterbatasanya yang dimiliki masih semangat untuk  mengikuti vaksinasi.

 

Walau kita sudah di vaksin kalian semua jangan jumawa(Sombong) Dan lena. Harus tetap menjaga prokes, pakai masker, cuci tangan Dan tetep jaga jarak.